Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 9. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2019

Biang Keringat

Definisi

Apa itu biang keringat?

Biang keringat, atau juga dikenal dengan miliaria, adalah jenis ruam kulit yang terjadi saat keringat, sel kulit mati, atau bakteri terperangkap di bawah kulit, atau saat kelenjar keringat tersumbat. Biang keringat biasanya muncul pada leher, bahu, dada dan area di sekitar ketiak, siku, dan pangkal paha.
Biang keringat biasanya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun pada kasus yang serius, biang keringat dapat mengganggu mekanisme regulasi panas pada tubuh.

Seberapa umumkah biang keringat?

Siapapun dapat mengalami biang keringat. Bayi dan anak-anak dapat mengalami biang keringat saat cuaca panas atau lembap, karena kelenjar keringat masih belum terbentuk sempurna. Biang keringat dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala biang keringat?

Gejala-gejala umum dari biang keringat adalah:
  • Benjolan-benjolan dan lenting yang merah dan kecil pada kulit
  • Pembengkakan ringan
  • Gatal-gatal
  • Sensasi perih atau tertusuk-tusuk secara intens.
Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Biang keringat biasanya menghilang dalam beberapa hari, namun dapat mempengaruhi regulasi panas pada tubuh. Anda harus menghubungi dokter apabila Anda mengalami:
  • Area yang terpengaruh terasa sangat sakit atau bengkak
  • Lenting mengandung terlalu banyak nanah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada ketiak, leher atau pangkal paha
  • Demam atau menggigil.
Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab biang keringat?

Biang keringat terjadi saat suhu panas dan lembap. Kondisi ini terjadi apabila Anda tinggal atau berpergian ke negara-negara tropis atau mengenakan pakaian yang membuat kulit tidak dapat bernapas. Biang keringat biasanya akan lebih parah pada area yang tertutup. Pada beberapa kasus, orang dapat mengalami biang keringat saat musim dingin karena pakaian yang digunakan.
Pada orang dewasa, keringat berlebih dapat membuat pori-pori dan kelenjar keringat bekerja berlebih dan tersumbat. Keringat yang tersumbat membuat iritasi kulit dan biang keringat. Pada anak-anak, kelenjar keringat mereka masih belum terbentuk dengan sempurna dan mudah pecah, menyebabkan keringat terperangkap di bawah kulit.
Memiliki berat badan berlebih atau obesitas dapat menyebabkan keringat berlebih. Olahraga dan bed rest yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan biang keringat.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk biang keringat?

Ada banyak faktor risiko untuk biang keringat, yaitu:
  • Bayi yang baru lahir lebih mudah mengalami biang keringat selama 1 minggu pertama.
  • Orang yang tinggal di daerah dengan iklim tropis lebih mudah mengalami biang keringat.
  • Aktivitas fisik yang berlebih tanpa pakaian yang sesuai.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana biang keringat didiagnosis?

Biang keringat dapat didiagnosis dengan melihat tampilan kulit.

Apa saja pengobatan untuk biang keringat?

Biang keringat biasanya akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi biang keringat adalah menghindari panas, lembap, mengenakan pakaian katun yang longgar, dan kurangi berkeringat.
Anda juga dapat menggunakan pengobatan untuk meredakan rasa gatal. Beberapa obat adalah: losion calamine, krim hydrocortisone, tablet antihistamin dan steroid topikal. Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan pengobatan yang memerlukan resep.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi biang keringat?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi biang keringat:
  • Hindari merasa kepanasan dengan berteduh saat di luar dan minum banyak air untuk menghidrasi tubuh Anda.
  • Mandi dengan air dingin untuk menyejukkan kulit Anda. Berada di ruang ber-AC atau menggunakan kipas angin juga dapat membantu. Anda dapat menggunakan kompres dingin, namun hindari menggunakannya lebih dari 20 menit.
sumber;https://hellosehat.com/penyakit/biang-keringat-2/

Jerawat

Pengertian Jerawat


Acne
Jerawat adalah masalah kulit yang terjadi ketika folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati. Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya bintik-bintik pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, punggung, dan dada.
Meski jerawat dapat dialami oleh siapa saja, namun sebagian besar kasus jerawat terjadi di masa puber, yaitu pada remaja berusia 10-13 tahun, dan semakin buruk pada orang dengan kulit berminyak.
Jerawat pada remaja umumnya akan hilang dengan sendirinya pada awal usia 20 tahun. Namun pada sebagian kasus, masih ada yang mengalami masalah jerawat hingga usia 30 tahun, terutama wanita.

Penyebab Jerawat

Terdapat empat kondisi yang dapat menyebabkan jerawat, yaitu:
  • Produksi sebum berlebih. Sebum adalah zat yang diproduksi oleh kelenjar minyak untuk mencegah kulit kering.
  • Sumbatan pada folikel rambut. Jerawat muncul ketika folikel rambut tersumbat oleh campuran sel kulit mati dan sebum.
  • Bakteri. Jenis bakteri Propionibacterium acnes bisa berkembang dan menyumbat folikel rambut, serta menyebabkan peradangan.
  • Hormon. Aktivitas hormon androgen berlebih dapat menyebabkan jerawat.
Folikel yang tersumbat bisa membengkak dan membentuk komedo putih atau komedo hitam bila terpapar dengan dunia luar. Kondisi tersebut sebaiknya jangan dianggap remeh, karena bisa berkembang menjadi pustula, papula, nodul, atau bahkan kista, apabila terkontaminasi oleh bakteri kulit.

Faktor Risiko Jerawat

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami jerawat, di antaranya:
  • Perubahan hormon. 80% kasus jerawat pada wanita terjadi karena adanya perubahan hormon pada masa tertentu, misalnya menjelang menstruasi, tiga bulan pertama masa kehamilan, atau akibat PCOS.
  • Masa pubertas. Pada masa pubertas, aktivitas hormon testosteron akan meningkat. Akibatnya kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit.
  • Keturunan. Seseorang dari keluarga yang bermasalah dengan jerawat lebih berisiko mengalami jerawat.
  • Gesekan kulit dengan benda, contohnya jerawat di wajah akibat terlalu sering mengenakan penutup kepala, jerawat di leher karena pemakaian baju yang terlalu ketat di bagian kerah, atau jerawat di punggung akibat sering menggunakan ransel.
  • Stres. Meski stres tidak menyebabkan jerawat, namun dapat memperburuk kondisi jerawat yang sudah ada.
  • Konsumsi obat-obatan, seperti penggunaan litium, kortikosteroid, atau obat antikejang.
  • Penggunaan kosmetik.
  • Merokok.

Pengobatan Jerawat

Pengobatan jerawat bisa membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, tergantung tingkat keparahan jerawat yang dialami. Untuk jerawat ringan yang berupa bintik-bintik atau komedo, penanganannya cukup menggunakan krim atau gel dengan kandungan benzoyl peroxide, yang dapat dibeli tanpa resep dokter.
Benzoyl peroxide
Benzoyl peroxide berfungsi sebagai antiseptik, yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. Zat ini juga membantu mengurangi komedo dan mengatasi radang. Benzoil peroksida tersedia dalam bentuk gel atau krim, dan digunakan pada wajah yang berjerawat, 20 menit sesudah cuci muka.
Gunakan obat ini secukupnya, karena penggunaan yang berlebihan bisa memicu iritasi kulit. Bila perlu, berkonsultasilah dengan dokter mengenai pemakaian benzoyl peroxide. Hindari paparan sinar matahari selama menggunakan obat ini, karena bisa menyebabkan kulit wajah menjadi lebih sensitif. Selain itu, jangan sampai obat ini mengenai rambut atau pakaian karena dikhawatirkan akan merubah warna rambut atau pakaian tersebut.
Selain membuat kulit kering, beberapa efek samping yang timbul dari penggunaan obat ini adalah gatal, sensasi terbakar pada kulit, serta kulit menjadi kemerahan dan mengelupas. Efek samping tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah pasien selesai menjalani pengobatan.
Untuk menghilangkan jerawat, benzoyl peroxide dapat digunakan selama 6 minggu. Namun, beberapa penderita dapat disarankan untuk terus menggunakan obat ini dengan frekuensi yang lebih jarang, untuk mencegah jerawat kembali muncul.

Retinoid topikal

Retinoid topikal bekerja dengan membuang sel kulit yang mati di permukaan kulit, sehingga tidak menyumbat folikel rambut. Jenis retinoid yang digunakan untuk mengobati jerawat adalah tretinoin topikal. Obat ini dipakai sekali sehari tiap sebelum tidur.
Gunakan retinoid topikal sesuai dosis, dan lindungi kulit dari paparan sinar matahari berlebihan. Tidak disarankan digunakan oleh wanita hamil, karena obat ini berisiko menyebabkan cacat lahir bagi janin yang dikandungnya.
Sama seperti benzoyl peroxide, pemakaian retinoid topikal umumnya dijalani hingga 6 minggu. Namun untuk mencegah jerawat kembali muncul, pasien dapat disarankan untuk terus menggunakan obat ini, dengan frekuensi yang lebih jarang.

Antibiotik topikal

Antibiotik topikal membunuh bakteri yang menginfeksi folikel rambut yang tersumbat. Obat ini tersedia dalam bentuk cairan atau gel yang dioleskan pada jerawat selama 6-8 minggu. Setelah jangka waktu tersebut, pemakaian obat ini harus dihentikan agar bakteri tidak berbalik menjadi kebal terhadap obat ini, sehingga bisa mengakibatkan infeksi bertambah atau jerawat semakin parah. Meski jarang terjadi, pengobatan ini bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi dan kemerahan pada kulit, serta terasa panas dan terkelupas.

Asam azelaic

Asam azelaic bekerja dengan membuang sel kulit mati dan membunuh bakteri, dan tersedia dalam bentuk krim. Obat ini dapat digunakan bila pasien yang mengalami iritasi akibat pemakaian retinoid topikal atau benzoyl peroxide.
Asam azelaic biasanya digunakan 2 kali sehari, atau 1 kali sehari bagi pasien yang memiliki kulit sensitif. Meski obat ini tidak membuat pemakainya sensitif terhadap sinar matahari, asam azelaic dapat menimbulkan efek samping seperti kulit kering, gatal, kemerahan, dan perih.

Tablet antibiotik

Jerawat yang parah dapat ditangani dengan pemberian antibiotik minum yang dikombinasikan dengan pengobatan topikal. Pengobatan bisa berlangsung hingga 4-6 bulan, tergantung pada reaksi pasien.
Jenis tablet antibiotik yang dapat diresepkan dokter adalah tetracycline. Namun pada ibu hamil atau menyusui, obat ini tidak bisa diberikan. Sebagai penggantinya, dokter akan meresepkan erythromycin yang lebih aman untuk digunakan.
Selain dapat membuat kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari, tetracycline bisa mengurangi efektivitas pil KB pada beberapa minggu pertama pengobatan. Karena itu, dokter akan menganjurkan pasien menggunakan alat kontrasepsi lain seperti kondom, selama menjalani pengobatan dengan tetracycline.

Terapi hormon

Terapi hormon bisa berdampak positif pada wanita berjerawat, terutama bila jerawat muncul selama masa menstruasi, atau jika terkait dengan gangguan hormon seperti PCOS. Dokter akan menyarankan untuk konsumsi pil KB kombinasi. Umumnya jerawat akan hilang meski butuh waktu hingga 1 tahun.
Antiandrogen
Apabila jerawat tidak bisa ditangani dengan antibiotik, dokter bisa memberikan antiandrogen. Obat ini bekerja dengan menghalangi efek hormon androgen pada kelenjar minyak. Salah satu contoh obat antiandrogen adalah spironolactone.

Isotretinoin

Isotretinoin adalah obat jerawat berbentuk tablet, yang memiliki sejumlah kegunaan seperti mencegah tersumbatnya folikel rambut, mengurangi jumlah bakteri di kulit, membantu mengontrol produksi sebum, serta mengurangi kemerahan dan bengkak di sekitar jerawat.
Umumnya isotretinoin digunakan selama 4-6 bulan sebelum hasilnya terlihat. Pada 7-10 hari pertama pengobatan, jerawat akan memburuk. Meski demikian, tidak perlu khawatir karena kondisi tersebut normal pada awal konsumsi.
Terlepas dari berbagai kegunaannya di atas, isotretinoin juga dapat menyebabkan sejumlah efek samping. Oleh karena itu, obat ini hanya disarankan bagi pasien yang mengalami jerawat parah, dan tidak bisa pulih dengan pengobatan lain. Beberapa efek samping yang umum terjadi meliputi
  • Perubahan kadar gula darah.
  • Kulit kering, retak, dan mengalami peradangan, terutama di bibir dan sekitar lubang hidung.
  • Terdapat darah dalam
  • Blefaritis atau radang kelopak mata.
  • Konjungtivitis atau radang pada selaput luar mata.
Pada kasus yang jarang terjadi, isotretinoin juga dapat menimbulkan efek samping berupa hepatitis (radang hati), pankreatitis (radang pankreas), dan penyakit ginjal. Untuk mencegah efek samping tersebut, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tes darah sebelum dan selama menjalani pengobatan dengan obat ini.
Penting diketahui, isotretinoin bisa menyebabkan cacat lahir pada bayi. Karena itu, obat ini harus dihindari oleh ibu hamil. Pada wanita yang memasuki usia subur, sebaiknya gunakan satu atau dua metode kontrasepsi selama 1 bulan sebelum pengobatan dimulai, selama pengobatan berjalan, dan selama 1 bulan setelah pengobatan usai. Selain itu, dokter juga akan menyarankan pasien untuk menjalani tes kehamilan sebelum, selama, dan setelah pengobatan.
Sejumlah pasien mengaku mengalami perubahan suasana hati saat mengonsumsi obat ini. Karena itu, beri tahu dokter bila Anda mengalami perubahan suasana hati seperti merasa lebih agresif, tertekan, atau ada keinginan untuk bunuh diri selama menggunakan obat ini.

Terapi Non Obat

Selain menggunakan obat-obatan, ada beberapa teknik pengobatan jerawat, yang dapat dilakukan tanpa atau dengan disertai konsumsi obat, antara lain:
  • Chemical peels. Pada prosedur ini, kulit yang berjerawat akan dikelupas agar tumbuh lapisan kulit baru. Pada prosesnya, peeling melibatkan bahan kimia seperti asam salisilat, asam glikolat, atau asam retinoat.
  • Terapi laser dan fotodinamikyaitu penanganan jerawat dengan membunuh bakteri penyebab jerawat, dan mengurangi produksi minyak di kulit, dengan menembakkan laser pada kulit yang berjerawat.
  • Suntik kortikosteroid. Nodul dan kista dapat ditangani dengan menyuntikkan kortikosteroid langsung ke area kulit yang berjerawat. Terapi ini dapat memperbaiki kondisi jerawat dalam waktu cepat dan mengurangi nyeri.
  • Ekstraksi komedo. Pada terapi ini, dokter menggunakan alat khusus untuk mencabut komedo yang tidak hilang dengan obat topikal. Terapi ini dapat menimbulkan bekas luka.
Selain sejumlah langkah pengobatan di atas, jerawat ringan bisa ditangani secara mandiri, dengan beberapa langkah berikut:
  • Gunakan pembersih wajah ringan dan air hangat untuk membersihkan area kulit yang berjerawat, dua kali dalam sehari. Untuk pasien yang mengalami jerawat di kulit kepala, lakukan keramas setiap hari.
  • Gunakan produk kosmetik berbasis air yang tidak menghalangi pori-pori kulit, serta hindari produk perawatan kulit yang mengandung minyak.
  • Jangan mencoba menghilangkan komedodengan menekannya, karena bisa menyebabkan infeksi atau meninggalkan bekas luka.
  • Pada sebagian orang, sinar matahari bisa memperburuk jerawat. Ada pula obat jerawat yang malah membuat jerawat memburuk bila terkena sinar matahari. Untuk mencegahnya, gunakan pelembab dan tabir surya yang noncomedogenic atau tidak mengandung minyak.
  • Hindari kontak kulit dengan ponsel, helm atau ransel terlalu sering. Tekanan atau gesekan pada kulit bisa menimbulkan jerawat.
  • Selalu mandi setelah menjalani aktivitas berat, untuk membersihkan kulit dari minyak dan keringat.

Pencegahan Jerawat

Meski jerawat sulit dicegah, beberapa langkah di bawah ini bisa dilakukan untuk meminimalkan kemunculannya:
  • Cuci muka dua kali sehari dengan pembersih wajah bebas minyak.
  • Hindari produk kosmetik yang mengandung minyak.
  • Jangan menggunakan pakaian yang terlalu ketat.
  • Bersihkan rias wajah sebelum tidur.
  • Selalu mandi setelah beraktivitas.
  • Kelola stres dengan baik.
sumber:https://www.alodokter.com/jerawat

Kanker Ginjal

Kanker ginjal adalah salah satu jenis kanker yang paling cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh manusia. Terlambat mendapatkan diagnosis bisa berakibat sangat fatal. Sayangnya, gejala kanker ginjal umumnya tidak terlihat pada stadium awal sehingga cukup sulit untuk mengenali ciri-cirinya dan mendapatkan diagnosis yang tepat.
Kanker ini memang baru akan terasa gejala atau tandanya setelah mencapai tahap menengah sampai stadium lanjut. Pada stadium lanjut, orang yang memiliki kanker ginjal akan merasakan nyeri dan pembengkakan di sekitar area pinggang. Apa lagi gejala-gejala kanker ginjal yang patut diwaspadai? 

Ciri-ciri dan gejala kanker ginjal

Perubahan warna urine

Warna urine (air kencing) umumnya adalah bening, jika setiap harinya Anda rutin mengonsumsi banyak air putih. Atau biasanya warna urine yang keluar adalah kuning bila cairan tubuh mengalami dehidrasi. Namun, pada orang yang memilki kanker ginjal, urine akan berubah warna menjadi kemerahan atau kecokelatan. Ini dikarenakan tercampurnya urine dengan darah, atau disebut juga hematuria.

Sakit punggung

Rasa sakit seperti adanya tekanan di punggung bisa jadi tanda adanya kanker ginjal. Namun, gejala ini biasanya terasa jika massa tumor sudah membesar dan menekan jaringan lain di sekitar ginjal. Kebanyakan orang baru diketahui memiliki kanker ginjal setelah menjalani CT scan maupun MRI ketika mengeluh sakit punggung ataupun perut.

Nafsu makan hilang

Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya (misalnya tidak sedang diet) biasanya terjadi pada penyakit-penyakit kronis seperti kanker, diabetestuberkulosis paru, dan sebagainya.
Maka, apabila Anda mengalami nafsu makan yang cenderung menurun sehingga berat badan turun secara drastis, ditambah gejala gangguan ginjal lainnya, sebaiknya Anda cek ke dokter untuk mendeteksi gejala kanker ginjal secara dini.

Demam

Demam yang dialami kemungkinan terjadi karena gejala penurunan nafsu makan dan berat badan Anda. Tubuh yang kekurangan nutrisi dan cairan akan memudahkan Anda mengalami infeksi dan demam.

Tubuh cepat lelah

Tubuh yang terasa lelah, lemas, dan lesu dapat terjadi karena hilangnya nafsu makan Anda. Tubuh akan menjadi sangat lemas bila tetap tak diisi dengan makanan dan minuman yang cukup. Jika keluhan ini disertai juga dengan nyeri punggung hingga urine yang berdarah, segera periksalah ke dokter.

Gejala kanker ginjal lainnya

  • Kekurangan darah atau anemia.
  • Keluar keringat di malam hari.
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
  • Pembengkakan pembuluh darah di sekitar testis (jika kanker ginjal diderita oleh pria).
  • Bengkak di pergelangan kaki atau kaki Anda.
  • Kanker ginjal yang menyebar ke bagian lain tubuh Anda dapat menyebabkan gejala lain, seperti sesak napas, batuk darah, dan sakit tulang.

Bagaimana menentukan stadium kanker ginjal?

Jika kanker ginjal didiagnosis, dokter Anda perlu mengetahui sejauh mana stadium mana kanker ginjal yang Anda miliki. Hal ini untuk membantu Anda memilih pengobatan yang terbaik dan sesuai. Penentuan stadium didasarkan pada ukuran tumor ginjal dan apakah kanker telah menyerang jaringan terdekat atau menyebar ke bagian tubuh yang lain. Stadium-stadium kanker ginjal yaitu:
  • Stadium I: Tumor tidak lebih besar dari bola tenis (hampir 3 inci atau sekitar 7 sentimeter). Sel kanker hanya ditemukan di ginjal.
  • Stadium II: Tumor lebih besar dari pada bola tenis. Tapi sel kanker hanya ditemukan di ginjal.
  • Stadium III: Tumor bisa bermacam-macam. Ini telah menyebar ke setidaknya satu kelenjar getah bening terdekat. Atau sudah tumbuh melalui ginjal untuk mencapai pembuluh darah di dekatnya.
  • Stadium IV: Tumor telah tumbuh melalui lapisan jaringan lemak dan lapisan luar jaringan fibrosa yang mengelilingi ginjal. Atau sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau ke paru-paru, hati, tulang, atau jaringan lainnya.
sumber;https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/gejala-kanker-ginjal/

Albuminuria

Albuminuria adalah simtoma terdapatnya sejumlah konsentrasi albumin di dalam urin. Albumin yang mencapai ginjal melalui pembuluh darah pada umumnya akan mengalami filtrasi pada glomerulus dan diserap kembali oleh tubula proksimal menuju sirkulasi darah. Laju albumin yang terlepas dari penyerapan proksimal ke dalam urin, yang melebihi 150 miligram/24 jam telah dianggap secara medis sebagai patologis.[1]
Walaupun dropsy atau anasarca telah dikenali sejak berabad yang lalu, pada tahun yang pasti 1827 Richard Bright pertama kali mengemukakan bahwa beberapa kasus edema disebabkan oleh adanya penyakit pada ginjal, yang kemudian dikenal sebagai penyakit BrightDiagnosis edema yang menyatakan ginjal sebagai asal usul edema kemudian didasarkan pada adanya konsentrasi albumin di dalam urin. Di dalam catatannya, Reports of medical cases with a view of illustrating the symptoms and cure of diseases by a reference to morbid anatomy, Richard Bright menunjukkan pertamakalinya bahwa pemanasan urin dengan menggunakan sendok teh akan menghasilkan formasi sejenis protein serupa putih telur yang disebut "albumen", yang sekarang disebut albumin.
Beberapa istilah digunakan untuk menyatakan klasifikasi albuminuria antara lain adalah albuminuria-mikro jika laju ekskresi albumin ke dalam urin antara 2 hingga 200 mikrogram/menit[2] atau 30 hingga 300 miligram/24 jam,[3] dan disebut albuminuria-makro setelah laju ekskresi tersebut melebihi nilai 200 mikrogram/menit,[2] kemudian disebut proteinuria saat rasio albumin terhadap kreatinina lebih besar daripada 30 miligram/mmol[4]dengan laju ekskresi melebihi 0,5 gram per 24 jam.[2] Proteinuria yang disertai dengan hipertensi berakibat pada nefropati diabetik.[5] Pada hewan anjing, hal ini merupakan komplikasi jangka panjang dari simtoma hiperkortisolisme dan hiperadrenokortisisme.[6]
Proteinuria juga dapat dikategorikan dengan asal-mula "glomerular" selain "tubular", yang disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas glomerular terhadap molekul makro. Peningkatan dapat terjadi pada lapisan glomerular yang dibentuk podosit atau sel mesangial, maupun pada lapisan endotelial renal yang disebut membran dasar glomerular.[7] Enzim heparanase diketahui juga menyebabkan degradasi pada membran tersebut.[8]
Pada lintasan podosit, TGF-β1, sebuah sitokina fibrogenik selalu mengalami peningkatan saat ginjal meradang.[9] TGF-β1 kemudian menekan protein diafragma pada celah podosit seperti P-cadherinzonula occludens-1, dan nefrin. Sementara itu, TGF-β1 juga menginduksi ekspresi protein filamen seperti desminfibronektin dan kolagen-1, dan menstimulasi sekresi enzim MMP-9 oleh podosit. Sinergi endokrin dan parakrin di atas akan mengakibatkan sel epitelial termasuk podosit mengalami dediferensiasi menjadi sel mesenkimal, dan meningkatnya permeabilitas pada lapisan tunggal podosit, hingga dapat dilalui albumin.
Proteinuria lebih lanjut dikategorikan berdasarkan jenis protein yang terekskresi selain albumin, misalnya globulinrantai ringan kappa atau lambda, atau protein Tamm Horsfall yang terbentuk dari nefron yang rusak. Sedangkan albuminuria persisten merupakan salah satu faktor dari sindrom metabolisme dan dapat menjadi petunjuk awal adanya peningkatan risiko penyakit renal dan kardiovaskular yang terkait dengan resistansi insulin dan disfungsi jaringan endotelial, akibat tidak normalnya atau terbaliknya fungsi filtrasi pada glomerulus.[2] Beberapa diagnosa yang dapat terjadi dari albuminuria antara lain:[10]
  • Penyakit renal primer
  • Penyakit renal yang terkait dengan kelainan metabolisme
  • Hemodinamik seperti congestive heart failure, constrictive pericarditis, renal vein thrombosis
  • Mieloma multipel (IgGIgAIgDIgE, dan rantai ringan bebas)
  • Waldenström's macroglobulinuria (primarily IgM)
  • Mu heavy chain disease
  • Idiopathic monoclonal gammopathy
  • Limfoma
Adanya busa yang berlebihan ketika buang air kecil dapat menjadi pertanda awal simtoma albuminuria, walaupun urin yang berbusa juga dapat disebabkan oleh hal yang lain seperti defisiensi tiaminahipertensi portal, kekurangan hepatoselulartirotoksikosisanemia dan penggunaan obat-obatan anti-peradangan berjenis non-steroid yang umumnya menyebabkan reabsorpsi garam darah.

sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Albuminuria

Batu Ginjal

Batu Ginjal merupakan Batu-batu urine dalam piala ginjal. Lebih sering lagi terdapat di kandung kencing. Sebab utama dalam pembentukan endapan-endapan batu urine adalah urine mengandung terlalu banyak garam atau karena garam-garam yang tidak larut atau larutnya hanya sedikit. Dalam proses selanjutnya batu-batu tersebut mengendap di sekitar benda-benda asing. Inti atau pusat dari sebutir batu biasanya adalah sel epitel, lendir, nanah, sel darah merah dsb. Dalam beberapa hal makanan yang mengandung garam dari berbagai jenis akan mempercepat pembentukan batu. Di beberapa daerah tertentu, yang airnya kaya akan zat-zat mineral, batu-batu tsb. sering dijumpai. Penyakit-penyakit peradangan dari saluran urine atau urine yang tidak dapat mengalir akibat sesuatu sebab akan menimbulkan pembentukan batu kencing dengan mengubah sifat urine dan garam-garam yang dikandungnya. Gambaran klinis dari penyakit batu ginjal adalah sama dengan yang terdapat pada pyelitis kecuali bahwa sakit yang terlihat adalah lebih parah. Gejala yang sangat nyata adalah serangan kolik. Tertimbunnya urine karena terhalang keluar mengakibatkan gejala-gejala uremik. Bila urine diperiksa di bawah mikroskop, terlihat adanya sel nanah, sel epitel, dan seringkali butiran-butiran batu yang sangat kecil. Sel darah seringkali juga terdapat akibat adanya perdarahan. Dengan memperhatikan kekerasan dan bentuk ginjal, maka ada tidaknya batu ginjal mudah diketahui.

Gejala batu ginjal

Gejala awal yang di derita penderita Batu Ginjal antara lain:
  1. Terasa nyeri dan sakit pada saat kencing,
  2. Mual dan muntah, Demam tinggi, Sering mengeluhkan rasa sakit pada pinggang.
  3. Terjadinya pembengkakan pada kaki dan mata, Perubahan warna struktur air seni.
  4. Terkadang kencing di sertai darah.
  5. Sering bangun di tengah tidur nyenyak hanya untuk kencing.
  6. Berkurangnya nafsu makan dan turunnya berat badan.
  7. Pembengkakan juga terjadi pada pergelangan kaki dan tangan.
  8. Terkadang merasakan sesak napas/sulit bernapas, juga selalu merasakan lelah dan lemas.

Pencegahan

Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisis dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih.[2]

Batu kalsium

Sebagian besar penderita batu kalsium mengalami hiperkalsiuria, di mana kadar kalsium di dalam air kemih sangat tinggi. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru.
  1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
  2. Diet rendah kalsium dan mengonsumsi natrium selulosa fosfat.
Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidismesarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.

Batu Asam Urat

Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas karena makanan-makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol. Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat. Selain itu juga sangat dianjurkan untuk banyak minum air putih.

sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_ginjal

Nefritis

Nefritis adalah kerusakan pada bagian glomerulus ginjal akibat infeksi kuman umumnya bakteri streptococcus.[1] Akibat nefritis ini seseorang akan menderita uremia atau edemaUremia adalah masuknya kembali urine (C5H4N4O3) dan urea ke dalam pembuluh darah sedangkan edema adalah penimbunan air di kaki karena terganggunya reabsorpsi air. Nefritis akut banyak diderita oleh anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh infeksi penyakit menular. Sedangkan nefritis kronis yang diderita oleh orangtua ditandai dengan tekanan darah tinggi dan pengerasan pembuluh darah ginjal. PENYEBAB Peradangan ginjal biasanya disebabkan oleh infeksi, seperti yang terjadi pada pielonefritis atau suatu reaksi kekebalan yang keliru dan melukai ginjal.
Suatu reaksi kekebalan yang abnormal bisa terjadi melalui 2 cara:
Suatu antibodi dapat menyerang ginjalnya sendiri atau suatu antigen (zat yang merangsang reaksi kekebalan) menempel pada ginjal
Antigen dan antibodi bergabung di bagian tubuh yang lain dan kemudian menempel pada sel-sel di dalam ginjal.

GEJALA Tanda-tanda dari nefritis adalah hematuria (darah di dalam air kemih), proteinuria (protein di dalam air kemih) dan kerusakan fungsi hati, yang tergantung kepada jenis, lokasi dan beratnya reaksi kekebalan.

sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Nefritis

Hati

Hati
Hati berada di dalam rongga perut sebelah kanan di bawah diafragma yang dilindungi oleh selaput tipis bernama kapsula hepatis. Hati berfungsi untuk mengeksresikan getah empedu zat sisa dari perombakan sel darah merah yang telah rusak dan dihancurkan di dalam limpa. Selain berfungsi sebagai organ ekskreksi, hati juga berperan sebagai penawar racun, menyimpan glikogen (gula otot), pembentukan sel darah merah pada janin dan sebagai kelenjar pencernaan.
Hasil gambar untuk struktur hati

sumber:https://blog.ruangguru.com/organ-organ-sistem-ekskresi-pada-manusia

Paru-Paru

Paru-paru
Paru-paru manusia berjumlah sepasang, terletak di dalam rongga dada yang dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru memiliki fungsi utama sebagai organ pernapasan. Paru-paru juga merupakan organ ekskresi yang berfungsi mengeluarkan gas-gas sisa proses pernapasan yaitu gas CO2 (karbon dioksida) dan H2O (uap air).
sistem ekskresi

sumber:https://blog.ruangguru.com/organ-organ-sistem-ekskresi-pada-manusia

Kulit

Kulit
Kulit merupakan lapisan jaringan pelindung terluar yang terdapat di permukaan tubuh. Kulit termasuk organ ekskresi karena mampu mengeluarkan zat-zat sisa berupa kelenjar keringat. Selain sebagai organ ekskresi, kulit juga berfungsi sebagai alat indera perasa dan peraba. Kulit terdiri dari tiga lapisan, masing-masing lapisan mempunyai fungsinya seperti gambar berikut:
sistem ekskresi
Struktur lapisan kulit (Sumber: thinglink.com) 
  • Epidermis (Lapisan Kulit Ari)
Epidermis merupakan lapisan kulit paling luar dan sangat tipis. Epidermis terdiri dari lapisan tanduk dan lapisan malphigi. Lapisan tanduk merupakan sel-sel mati yang mudah mengelupas, tidak mengandung pembuluh darah dan serabut saraf, sehingga lapisan ini tidak dapat mengeluarkan darah saat mengelupas. Lapisan malphigi merupakan lapisan yang terdapat di bawah lapisan tanduk, yang tersuun dari sel-sel hidup dan memiliki kemampuan untuk membelah diri. Lapisan malphigi terdapat pigmen yang dapat menentukan warna kulit, dan melindungi sel dari kerusakan akibat sinar matahari.
  • Dermis (Lapisan Kulit Jangat)
Dermis merupakan lapisan kulit yang terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan dermis lebih tebal daripada lapisan epidermis. Lapisan dermis terdiri dari beberapa jaringan sebagai berikut:
sistem ekskresi
  • Jaringan ikat bawah kulit
Lapisan ini terletak di bawah dermis, di antara lapisan jaringan ikat bawah kulit dengan dermis dibatasi oleh sel lemak. Lemak ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari benturan, sebagai sumber energi dan penahan suhu tubuh. 

sumber:https://blog.ruangguru.com/organ-organ-sistem-ekskresi-pada-manusia

Ginjal

Ginjal
Ginjal merupakan komponen utama penyusun sistem ekskresi manusia yaitu urin. Manusia memiliki sepasang ginjal berukuran sekitar 10 cm. Letak ginjal di rongga perut sebelah kiri dan kanan ruas-ruas tulang pinggang. Ginjal berfungsi untuk menyaring zat-zat sisa metabolisme dari dalam darah, mempertahankan keseimbangan cairan tubuh, mengeskresikan gula darah yang melebihi kadar normal dan mengatur keseimbangan kadar asam, basa, dan garam di dalam tubuh.

Struktur Ginjal
Hasil gambar untuk struktur ginjal

Secara umum ginjal terdiri dari tiga bagian:
bagaian ginjal.png
Proses Pembentukan Urin
  • Filtrasi: proses penyaringan sel-sel darah. Hasil dari proses filtrasi berupa urin primer yang masih mengandung air, glukosa, dan asam amino. Tapi sudah tidak mengandung protein dan darah.
  • Reabsorbsi: proses penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh. Hasil dari proses reabsorbsi adalah urin sekunder.
  • Augmentasi: proses pengumpulan cairan dari proses sebelumnya. Hasil dari proses augmentasi adalah urin sesungguhnya.
sumber: https://blog.ruangguru.com/organ-organ-sistem-ekskresi-pada-manusia

Laporan Projek Roket Air

Laporan Projek Roket Air Kelompok 4 : Amanda Christa Putri                        (03) Audrey Violyta Pradnya Diva           (04) B...